Cerpen: Ternyata Aku (Perenungan Menjelang Paskah)

By andrewchristianjr - Saturday, April 07, 2012


Yesus telah babak belur, wajahNya tak lagi bersih, lebih memperlihatkan kengerian, banyak luka yang menganga. Aku berjalan tak jauh dariNya, Ia memikul salib, jari-jariNya yang kotor oleh debu bercampur darah yang mengering menggenggam erat kayu salib dan terlihat gemetar. NafasNya tak beraturan, terdengar juga erangan-erangan kecil dari mulutNya. Ia menggigit bibirNya dan aku tahu Ia sedang menahan rasa sakit. Tiba-tiba saja sebuah pukulan mengenai wajahNya, Ia terjengkang dan sempoyongan menahan pukulan juga menjaga keseimbangan agar tak jatuh tertimpa salib yang dibawaNya. Darah mulai mengalir lagi dari luka di wajahNya. Dalam usahaNya menjaga keseimbangan tersebut, sebuah gagang tombak didorongkan dengan keras pada perutNya, aku bisa mendengar sebuah rintihan yang tertahan. Aku pusing…pening.

” Hei Rudolfus…. apa kau hanya ingin diam saja di situ, dan tak mau ambil bagian?” suara seorang serdadu di sebelahku. Aku kaget dan lebih kaget lagi ketika aku mendapatkan diriku berpakaian serdadu Romawi sama seperti si serdadu yang menegurku. Sebuah kesadaran yang memalukan…Aku Adalah Bagian Dari Mereka Yang MenyiksaNya.

” Hei kenapa masih diam atau jangan-jangan kau pengikut Dia?” serdadu itu terlihat kesal dengan diriku yang terlihat bimbang.

Yah memang aku sedang dalam kebimbangan…sebuah cambuk ada dalam genggamanku…semua serdadu menatap ke arahku. Aku mengangkat cambuk yang diujungnya disimpul dengan potongan-potongan besi tajam. Aku melihat ke arah Yesus, Ia hanya menatapku dengan mataNya yang telah sipit karena bengkak dan tatapan itu begitu tajam, Tanpa kusadari tanganku bergerak dan mencambukkan cambuk ke tubuhNya….Ia berteriak kesakitan, bukan karena sakit fisik tapi lebih dalam dari itu. Cambuk itu mngoyakkan kulit dan juga daging di tubuhNya. Kulihat air mata menetes dari mataNya yang terlihat merah karena bercampur darah dari luka di bawah mataNya. Setelah sadar apa yang aku buat….aku lemas, cambuk terlepas dari tanganku…kemudian aku berlari ke sebuah lorong yang sunyi, kepergianku itu diikuti tatapan dari semua orang yang berkumpul di situ. Setelah sendirian, aku menangis, kutanggalkan pakaianku….dan berteriak sekuatnya….

“Tuhan maafkan aku yang telah ikut menyiksaMu…ampuni aku!!!!”




  • Share:

You Might Also Like

0 komentar