Jakarta, Kota Berpolusi Ketiga di Dunia

By andrewchristianjr - Tuesday, January 30, 2018

Kualitas udara di Indonesia telah semakin memburuk, hingga pada saat ini Indonesia menjadi negara paling berpolusi ketiga di dunia. Menurut Greenpeace, tingginya polusi yang ada di Jakarta mencapai tiga kali lipat dari batas “aman” polusi yang telah ditetapkan WHO. Buruknya kualitas udara di Jakarta membuat penduduknya rentan akan penyakit kesehatan, hal ini karena polusi udara dapat menyebabkan masalah pernapasan, karena racun yang ada dapat mengganggu fungsi organ tubuh dan secara negatif dapat berdampak pada imunitas seseorang. 

Siapapun yang ingin hidup sehat, mungkin harus mempertimbangkan untuk pindah dari Jakarta, mengingat kota tersebut semakin menaiki peringkat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Berdasarkan indeks kualitas udara sebenarnya, yang diunggah oleh aplikasi Airvisual pada Jumat (15/9) siang, Jakarta berada di peringkat ketiga sebagai kota paling berpolusi di dunia—setelah Beijing dan Dhaka—di antara 70 kota yang dihitung di seluruh dunia.

Pada pertengahan bulan Agustus, aplikasi tersebut menunjukkan bahwa Jakarta berada di peringkat paling atas, yang diikuti oleh Ankara di Turkey dan Lahore di Pakistan.
Penduduk Jakarta mungkin telah merasakan kualitas udara yang semakin memburuk, dengan adanya udara yang semakin berkabut dan bau tajam dari asap kendaraan.
Filani Olyvia (25 tahun), seorang penduduk yang tinggal di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa ia khawatir akan kesehatannya, karena ia menggunakan ojek setiap hari untuk menuju tempat kerjanya.

“Saya khawatir terserang penyakit pernapasan, karena setiap hari saya harus berhadapan dengan polusi yang berasal dari motor dan mobil. Di Mampang—dimana kemacetan sangat parah—saya bisa menghabiskan banyak waktu di jalan,” ujarnya.

Baru-baru ini, Filani mengatakan bahwa ia memiliki dua orang teman yang menggunakan sepeda motor, yang terserang masalah pernapasan. Sehingga, ujarnya, ia selalu menggunakan masker ketika menaiki ojek.


Greenpeace Indonesia mengungkapkan bahwa polusi udara di Jakarta—dengan tingginya paparan polusi karsinogenik yang disebut PM 2.5—tiga kali lebih besar dibandingkan batas “aman” maksimum yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 25 mikrogram per meter kubik.

Menurut penelitian yang dilakukan Greenpeace pada bulan Januari hingga bulan Juni, udara di Jakarta dapat disebut “tidak sehat” dan berbahaya bagi para penduduknya, terutama anak-anak, wanita hamil, dan lansia.

“Secara umum, terdapat peningkatan yang signifikan pada kematian yang diakibatkan oleh stroke, penyakit jantung, infeksi pernapasan (atau yang disebut juga ISPA) pada anak-anak, kanker paru-paru, dan penyakit paru-paru kronis,” ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace.

Menggunakan analisis risiko dari Global Burden of Disease Project yang dilakukan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation, Greenpeace, ditemukan bahwa peningkatan masyarakat yang terserang penyakit akibat polusi, terjadi di wilayah yang sangat terpapar oleh polusi.

Contohnya di Cibubur, Jakarta Timur, yang merupakan wilayah berpolusi udara terburuk dengan tingkat PM 2.5 mencapai angka 106 mikrogram per meter kubik, dimana anak-anak memiliki peluang sebesar 105 persen menderita penyakit ISPA, dan risiko kanker meningkat tajam menjadi 150 persen.

Penemuan Greenpeace tersebut didukung oleh data dari Dinas Kesehatan Jakarta, yang menunjukkan bahwa penyakit pernapasan berada di peringkat pertama di antara 10 penyakit yang sering menjangkit penduduk Jakarta.

Jakarta Smart City juga telah mengunggah data yang menunjukkan ribuan penduduk Jakarta—terutama mereka yang tinggal di dekat jalan-jalan sibuk seperti di Cilandak, Setiabudi, Pancoran, dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan—menderita masalah pernapasan.
Pada tahun 2016, jumlah anak-anak di Jakarta yang terserang pneumonia—yang dapat dipicu oleh polusi udara—sebanyak 41,053 orang, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 24,193 orang.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Dokter Indonesia (IDI), Moh. Adib Khumaidi, mengatakan bahwa pneumonia dapat dipicu oleh paparan PM 2.5.

Secara umum, kualitas udara yang buruk dapat menyebabkan masalah pernapasan, ujarnya.

Terlepas dari meningkatnya jumlah kasus penyakit pernapasan di Jakarta, Dinas Kesehatan Jakarta mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penelitian mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan penduduk Jakarta.

Namun begitu, Dicky Alsadik, Kepala Kesehatan Lingkungan di Dinas Kesehatan Jakarta, mengatakan bahwa polusi udara dapat menyebabkan masalah pernapasan, karena racun yang ada dapat mengganggu fungsi organ tubuh dan secara negatif dapat berdampak pada imunitas seseorang.

Untuk melindungi diri mereka dari emisi PM 2.5, para penduduk disarankan oleh Greenpeace untuk menggunakan masker N95, dan bukannya masker sekali pakai yang telah banyak digunakan.

“Kami juga mendesak pemerintah untuk membangun sistem pengawasan kualitas udara yang dapat diakses oleh publik, bagi penduduk Jakarta,” ujarnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan Hidup di Dinas Lingkungan Hidup DKI, Diah Ratna Ambarwati, mengatakan bahwa tahun depan Dinas Lingkungan Hidup akan memiliki peralatan untuk menganalisis PM 2.5, dimana saat ini Dinas tersebut hanya memiliki peralatan yang mampu mengawasi PM 10.

SUMBER 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar