5 Candi Buatan Alam di Indonesia

By andrewchristianjr - Friday, June 22, 2018

Alam memang menakjubkan. Seperti yang pernah AMJG bahas sebelumnya disini, kadang struktur batuan pahatan alam begitu indahnya tersusun, seakan-akan itu adalah bangunan buatan manusia. Maka tak jarang struktur batuan yang sebenarnya terbentuk secara alami, disangka adalah bangunan candi bahkan piramida oleh masarakat awam.
Di bawah ini beberapa contoh struktur batuan alami yang menyerupai candi buatan manusia di nusantara kita.


1. Candi Batu Pulau Yefbie

Formasi Demu yang terdiri dari selang-seling batu gamping pasiran, serpih karbonatan, dan batulumpur karbonatan kehijauan membentuk seluruh Pulau Yefbie, bagian selatan Kepulauan Misool, Papua Barat. Di lereng-lereng terjal pantainya, formasi batuan berumur Yura Tengah ini seolah-olah membangun suatu candi batu. Proses erosi terhadap bidang perlapisan horizontal dan bidang-bidang vertikal retakannya telah sedemikian rupa mengukir Formasi Demu laksana candi.

2. Candi Bukit Pajangan Purworejo

Batu berundak yang mirip layaknya candi ini muncul setelah terjadinya longsor pada 19 Juni 2016. Temuan batu berundak yang serupa dengan candi itu menjadi perbincangan di media sosial, setelah fotonya tersebar di Facebook.  Bahkan sebagian ada yang mengatakan temuan candi ini lebih besar dan tua dibanding Candi Borobudur.

Namun sebenarnya, batuan di bukit ini berundak karena proses alamiah geologi di masa lampau. Prosesnya disebut columnar joint atau pembentukan/penggabungan tiang-tiang kekar yang terbentuk akibat magma dalam perut bumi keluar lalu mengalami pendinginan dan menyusut. Penyusutan ini akhirnya membentuk lapisan-lapisan seperti berundak.


Pembentukan tiang columnar joint ini bisa terjadi secara vertikal ke arah bentuk heksagonal, atau kalau secara horizontal bentuknya seperti lapisan berundak ini.

Magma material batuan ini diprediksi kuat berasal dari proses vulkanis bekas Pegunungan Menoreh purba yang cakupannya meliputi sampai Kabupaten Purworejo dan Kulonprogo.

3. Piramida Sawang, Aceh

Awal tahun 2013, masyarakat Aceh Utara dihebohkan oleh penemuan struktur aneh di pedalaman Sawang, sebuah kecamatan di bagian barat daya kabupaten Aceh Utara, ± 40 km dari Lhokseumawe. Masarakat setempat menemukan Struktur batu dalam bentuk dan susunan seakan-akan buatan manusia. Struktur tersebut memanjang di bantaran sebelah kanan hulu sungai Krueng Jeuringeh. Sebenarnya penduduk setempat pernah melintasi lokasi sebelumnya tapi tidak pernah memberi perhatian akan adanya balok-balok batu berukuran besar yang sepertinya telah tersusun sejak lama.

Setelah diteliti oleh para ahli, struktur batu tersebut merupakan sekumpulan kolom basalt yang mirip dengan Giant’s Causeway di County Antrim, Irlandia Utara, yang sudah sangat terkenal dan berada di bawah perlindungan lembaga PBB, UNESCO, sebagai situs warisan dunia sejak 1986.


Batu-batu yang umumnya berbentuk heksagonal di sepanjang tepi kanan aliran Krueng Jeuringeh ini tampak seperti talud penyangga tebing bukit. Jejeran kolom basalt yang ditemukan pada waktu itu sepanjang ± 403 meter dengan ketinggian berkisar antara 8-10 meter. Merujuk kepada pendapat ahli geologi mengenai Giant’s Causeway, struktur semisal ini terbentuk akibat sebuah letusan gunung berapi di zaman purba.

 Batu-batu berbentuk heksagonal, pentagonal dan tetragonal yang merupakan batuan vulkanik

Temuan struktur kolom basalts yang unik di pedalaman Sawang menambah satu keajaiban alam yang baru bagi dunia.

4. Candi Watu Piring, Mojokerto

Struktur Watu Piring ditemukan warga beberapa saat setelah terjadi banjir bandang di Desa Kalikatir, Kecamatan Gondang akhir Maret 2017. Situs tersebut berada di lereng Pegunungan Anjasmoro yang terletak di atas Desa Kalikatir. Diduga air dari pegunungan menggerus material tanah yang sebelumnya menutup struktur bebatuan tersebut.

Oleh warga setempat, struktur bebatuan berundak itu diyakini sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Kahuripan. Pasalnya, lempengan bebatuan tersusun cukup rapi sehingga menyerupai bangunan candi. Warga juga mengaitkan struktur tersebut dengan situs Watu Bancik yang ditemukan lebih dulu. Watu Bancik sendiri telah ditetapkan sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Kahuripan.


Namun struktur Watu Piring di Dusun Begagan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, ternyata bukan situs purbakala. Tumpukan bebatuan itu terbentuk secara alami, tapi berusia 2-5 juta tahun.

Setelah dilakukan kajian terhadap situs Watu Piring , para ahli memastikan, struktur bangunan yang tersusun dari tumpukan lempengan batu itu bukan situs purbakala.


Sebenarnya singkapan batuan yang tampak pasca banjir dan longsor di Begaganlimo itu merupakan fenomena alam biasa. Kawasan Gondang, termasuk tempat struktur Watu Piring ditemukan, masuk dalam zona Kendeng Timur. Dalam peta geologi Van Bemmelen (1949), zona tersebut berupa endapan-endapan Kenozoikum akhir yang berumur pliosen-pliatosen. Jenis bebatuan penyusunnya terdiri dari batu pasir berlapis napalan, batu pasir gampingan, dan perlapisan napal pasiran.

Zona itu kira-kira berumur 2-5 juta tahun. Jadi, intinya lokasi di Begaganlimo bukanlah hasil budaya manusia.



5. Bukit Meriam, NTB

Di Bima NTB, terdapat sebuah pulau yang indah dan unik. Toro Maria Bima atau biasanya disebut dengan tanjung meriam ini memliki pemandangan yang berbeda dengan lainya yakni terdapat bukit yang dipenuhi oleh bebatuan heksagonal yang mirip dengan gambaran planet kripton di film superman.

Hampir seluruh sisi bukit ini tertutup dengan batu. Batu-batu yang menutupi bukit itu hampir seluruhnya berukuran sama, yaitu berdiameter sekitar 25 cm. Sementara panjangnya berkisar antara 2-3 meter dengan separuh batu telah menancap dan tertutup tanah.

Warga yang tinggal tak jauh dari sekitar lokasi mengkeramatkan bukit batuan tersebut. Mereka tak pernah mendatangi bukit itu dan tak tahu menahu asal mula bukit batuan unik tersebut. Batu-batuan disana diangkerkan oleh warga sekitar.


Batu-batu tersebut sebenarnya adalah jenis batuan beku (basalt) yang terbentuk karena magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif. Batuan ini dapat berubah jenis jika mengalami proses magmatis.


SUMBER 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar