How Are You Mom? (yang ngga kuat nangis jangan baca)

By andrewchristianjr - Tuesday, March 23, 2010

Lelaki itu bernama Brams. Siang menjelang ia tiba di sebuah rumah bercat kuning dan cukup luas untuk dihuni. Pohon cem-ceman dengan rindang menghiasi halaman depan dan belakang. “Tanda kemakmuran,” begitu kata kakeknya. Dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam.

“Jam-jam begini tentulah belum ada orang selain seorang pembantu,” pikirnya.

Pintu kamar dibuka dengan perlahan. Didapatinya perempuan cantik berambut panjang, tidur tergulai lemah di atas ranjang. Didekatinya perempuan cantik itu. Mengecup keningnya dan setengah berbisik dinyanyikannya lagu itu penuh haru. Meski dengan merubah sedikit liriknya.

Mother, how are you today?

Here is a note from your son

With me everything is ok, hey…

Mother, how are you today?

Bait terakhir dinyanyikannya dengan terbata-bata. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis yang dalam. Tak mampu melanjutkannya.

Dipandanginya kembali wajah cantik milik perempuan itu, yang perlahan-lahan mulai membuka mata. Cepat-cepat lelaki menyeka air matanya. Tak ingin perempuan cantik itu melihatnya menangis.

“Kaukah itu, Anakku?” Perempuan cantik bertanya setelah benar-benar berhasil membuka matanya.

Lelaki mendekati perempuan. Mengecup keningnya, “Selamat ulang tahun, Ma…” katanya sambil menyerahkan setangkai mawar putih.

“Apa-apaan kau ini, Anakku? Sudahkah kau lupa hari ulang tahunku?”

“Bagaimana mungkin aku lupa, Ma. Sekarang tanggal 10 April 2007. Ini adalah saat yang tepat merayakan ulang tahun Mama. Karena…”

“Karena apa, Anakku?”

“Karena kita tak punya waktu lagi menunggu sampai November tiba. Beberapa hari setelah hari ini, keadaan Mama semakin melemah. Tapi Mama bersikeras tidak mau ke rumah sakit. Lalu, tanggal 14 April Mama tidak sadarkan diri dan kami membawanya ke rumah sakit. Dua hari Mama mengalami koma,” katanya dalam hati.

“Tidak mengapa, Anakku. Mungkin kau benar-benar lupa karena terlalu sering menghafal rumus-rumus fisika yang senantiasa menari-nari di sekitarmu.” Perempuan tersenyum meraih setangkai mawar putih pemberian lelaki. “Terimakasih, Anakku,” katanya lagi.

Lelaki tertunduk. Tak sanggup memandang senyum itu.

“Tapi, mengapa rambutmu panjang seperti itu? Rasa-rasanya…,” perempuan mencoba mengingat kejadian tadi pagi dan beberapa hari yang lalu, “engkau memiliki rambut pendek,” lanjutnya lagi.

Lelaki diam. Dibiarkannya perempuan cantik itu terus menerka-nerka apa yang terjadi pada rambutnya.

“Enam bulan yang lalu, saat engkau pulang dari Inggris dengan gelar Master, rambutmu sepanjang ini. Tak kau potong karena alasan biayanya mahal, begitu katamu. Tapi, kenapa sekarang…?”

“Sebelum aku bercerita, maukah Mama menceritakan masa kecilku dulu?”

“Untuk apa, Anakku? Bukankah berulang kali telah aku ceritakan kepadamu?”

“Sekali lagi, Ma. Agar aku bisa menceritakannya untuk anakku kelak.”

Perempuan bangkit dari tidurnya. Merapatkan bahu ke dinding dengan dua buah bantal di antaranya. Lelaki duduk di sampingnya. Di tepi tempat tidur. Menyiapkan hati dan memori untuk menyimpan cerita yang akan didengarnya dari perempuan cantik untuk terakhir kalinya.

“Dulu,” kata perempuan membuka cerita, “saat kau masih dalam kandunganku, engkau sering membuatku menangis terharu.”

“Kenapa, Ma?”

“Kau merapatkan diri ke dinding rahim, mendorong bahu, sikut, atau lututmu. Kau membuatku tak bisa tidur dengan gerakanmu yang hampir setiap malam. Tapi, Anakku, gerakanmu mengingatkan aku akan besarnya kekuasaan Tuhan.”

Lelaki menggenggam erat tangan perempuan cantik. Menahan genangan air matanya.

“Sakit kurasakan saat melahirkanmu. Tapi, tangis itu, tangis milikmu yang ingin mengabarkan pada dunia tentang keberadaanmu adalah obat mujarab untuk sakitku. Aku sembuh seketika. Tidak kurasakan apa-apa kecuali bahagia.”

Lelaki menunduk.

“Kau tahu, Anakku?” katanya lagi. “Dengan bahagia kusiapkan sarapan dan bekal untukmu. Tapi, setelah kau pergi ke sekolah bersama Papa, aku merasa sendiri. Rindu akan tawamu.”

“Begitu juga aku, Ma,” kata lelaki dalam hati.

“Lama kurasakan waktu berputar. Hingga ku dengar suara motor itu. Cepat-cepat aku menghambur keluar. Melihat dan memelukmu. Mendengarkan segala ocehanmu tentang kejadian hari ini di sekolahmu. Dengan wajah senang, kau tunjukkan pula bekalmu yang kosong. Tapi kau masih lapar, katamu.”

Lelaki tersenyum malu mendengar itu. Kemudian bertanya, “Karena itu aku jadi gendut ya, Ma?”

“Ha ha ha…” Perempuan itu tertawa. “Kau suka makan.”

“Kenapa Mama tidak melarangku?”

“Tak kau ingat, aku sudah melakukannya. Kukatakan padamu agar jangan menghabiskan lauk di atas meja. Tapi kau menghabiskannya diam-diam. Hingga tiba jam makan malam, aku baru menyadarinya. Sering kali kita melewatkan makan malam dengan kerupuk, karena ulahmu ini, Anakku.”

“Itu karena aku menyukai masakan Mama,” terdengar suara lelaki dengan sedikit membela diri.

“Begitulah dirimu.”

“Tapi Mama juga ingatkan, dulu sering memberiku kentang.”

“Ceritanya berawal saat kita tinggal di Ohio, Amerika. Saat Papamu melanjutkan S3 di sana. Kau masih kelas tiga saat itu. Karena untuk pertama kalinya ke sana, aku dan Papamu belum tahu di mana restoran yang menjual masakan Indonesia atau toko yang menyediakan bahan-bahan masakan dari negara kita. Akhirnya, kita putuskan untuk makan makanan ala barat, termasuk kentang. Dan kau sangat menyukainya sampai detik ini kan?”

“Ya, tapi kentang tidak membuat badanku besar seperti waktu itu.”

“Karena pikiranmu mulai terbagi-bagi sekarang. Kau masih makan banyak. Tapi, aktivitasmu tak kalah banyaknya.”

Lelaki dan perempuan cantik terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Maukah Mama memaafkan kesalahanku yang dulu?” kata lelaki tak lama kemudian.

“Kesalahan yang mana, Anakku?”

“Waktu itu, Ma. Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu siang, aku minta ijin ke Mama untuk bisa keluar bersama teman-teman di kampung ini.”

“Tapi aku melarangmu, bukan?”

“Ya, dengan alasan Mama takut aku kena pengaruh buruk lingkungan orang kampung di sini.”

“Dan kau tidak terima.”

“Aku marah, Ma. Aku berlari ke kamar Mama dan mulai mengacak-acak isi lemarinya. Setelah aku puas, aku meninggalkan kamar Mama begitu saja dengan baju-baju yang berserakan di lantai.”

Perempuan tersenyum.

“Aku menyesal. Maafkanlah aku, Ma,” kata lelaki lagi.

“Tentu, anakku. Kau masih kecil saat itu. Kau tidak tahu apa-apa.”

“Setelah keluar, aku melihat Mama masuk ke kamar dan membereskan baju-baju yang berserakan satu per satu. Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat aku melihat Mama menangis. Kenapa Mama menangis? Begitu hancurnyakah perasaan Mama oleh sikapku?”

Perempuan masih dengan senyumnya, “Tidak, Anakku. Kau tidak melukai perasaanku. Aku menangis karena Tuhan memberi air mata untukku yang bisa aku gunakan kapan pun aku butuhkan.”

Lelaki diam tak mengerti.

“Kau tidak akan mengerti, Anakku. Kelak ketika kau memiliki seorang istri, kau juga akan melihatnya menangis entah untuk alasan apa.”

Perempuan diam lagi. Mereka diam. Membiarkan waktu menyuguhkan berbagai menu nostalgia di masa dulu.

Dan kemudian perempuan berkata lagi, “Kau ingin sekali masuk SMU 1. Tapi sayang kesempatan tidak memberikannya untukmu.”

Lelaki masih tinggal dalam diamnya. Dia yakin perempuan cantik akan bicara lagi.

“Kau sedih. Dan aku berusaha menghiburmu sampai kau mau memilih SMU 6. Kemudian, kau menelepon Papamu yang sedang berada di Singapura. Kau katakan, Pa, walau nggak bisa masuk SMU 1, tapi beli motornya tetap jadi kan, Pa? Sambil menangis kau katakan itu, Anakku.”

“Aku mengingatnya, Ma. Motor itu aku gunakan sejak SMU sampai aku kuliah. Motor itu juga yang menjadi saksi bisu saat tiba-tiba ide itu muncul dalam benakku. Ide membuat alat pembangkit listrik mini yang memanfaatkan air selokan Mataram.”

“Kau berhasil membuatnya.”

“Itu karena, Mama. Setiap saat aku meminta uang untuk membeli perlengkapan alat-alat praktikum, Mama selalu saja memberikannya. Padahal, aku sendiri belum memiliki keyakinan akan suksesnya alat itu. Tapi doa Mama membuatku berhasil melakukannya.”

“Kau memang berbakat. Sejak kecil, kau sudah menyukai ilmu alam.”

Udara ketika itu terasa panas. Tapi bayangan-bayangan masa lalu memberi kesejukan tersendiri bagi lelaki. Universitas Gajah Mada memberinya gelar S.Si dengan predikat cumlaude. Tak lama kemudian, gelar Master diperolehnya dari University of Bristol, United Kingdom. Dan kini, dia sedang menempuh S3 di universitas itu pula.

“Sudah ada berita dari Inggris mengenai beasiswa S3 mu?” tanya perempuan itu tiba-tiba.

Lelaki tak menjawab. Entah dari mana dia harus memulai cerita ini.

“Aku yakin kau akan diterima S3 di sana.”

“Mama akan ke sana lagi menjengukku?” tanya lelaki ragu-ragu. Sebuah pertanyaan yang dia sendiri tahu kalau itu takkan pernah terjadi lagi.

“Seperti dulu?”

“Ya, saat aku menempuh S2 di sana.”

“Aku ingat, anakku. Kau bawa aku dan Papamu berjalan-jalan mengelilingi London. Berbelanja coklat di Broadmead City Center Bristol dan mengunjungi sebuah desa kecil yang ada di Bath. Kau membahagiakan aku dan Papamu. Kau pula yang membiayai semuanya.”

“Masih ada lagi, Ma. Paris. Bukankah Mama ingin ke sana.”

“Cukup kuatkah aku?”

“Ya.”

“Aku juga ingin ke sana, Anakku.”

“Kalau begitu, Mama harus segera sembuh,” kata-kata itu dikeluarkannya seolah-olah dia lupa kejadian yang sesungguhnya.

“Kanker ini. Kanker di payudara ini, tempat di mana kau kususui lebih satu tahun lamanya menggrogoti segala aktivitasku. Tak mampu lagi aku menyediakan sarapan di atas meja. Menyuci dan menyetrika. Yang ada, waktu kalian tersita karena harus bergantian menjagaku di sini. Di tempat tidur ini.”

Lelaki menyium tangan perempuan itu kembali. Dibiarkannya air mata itu mengalir dengan derasnya.

“Aku ingin melihatmu bahagia, Anakku. Menyaksikan pernikahanmu. Dan menimang cucu dari anak laki-laki pertamaku.”

Lelaki masih dengan tangisnya.

“Akankah itu terjadi, Anakku?”

Lelaki tak mampu menjawab. Dipandanginya wajah cantik itu sekali lagi. Tak hanya ada genangan air mata. Tapi di sana, di matanya, pintu hatinya terletak. Tempat di mana cinta itu ada.

“Maafkan aku, Anakku,” perempuan berkata lagi. “Aku telah membuatmu menangis. Merenggut kebahagianmu dengan sakitku ini.”

“Kenapa Mama tidak mau ke rumah sakit?” lelaki bertanya dengan suara yang amat lemah.

Perempuan menatap lelaki. Dia tersenyum. Senyum yang menusuk hati.

“Tak ada gunanya,” kata perempuan tak lama kemudian.

Mendengar itu, lelaki menangis tersedu. Tersedu seperti ketika tubuh perempuan cantik itu akan ditimbuni tanah.

“Sudahlah, Anakku. Aku sudah cukup bahagia.”

“I love you, Mom.”

Lelaki memeluk erat perempuan cantik itu yang membiarkan dirinya merasakan kenyamanan dibahunya. Sebuah bahu yang diciptakan Tuhan cukup kuat untuk menopang dunia.

“Lantas, apa yang terjadi dengan rambut panjangmu ini?”

Lelaki kembali duduk di tepi tempat tidur dan memulai ceritanya, “Apa Mama masih ingat sebuah alat yang ingin aku ciptakan?”

“Tentang mesin waktu itu?”

“Ya, Ma. Aku berhasil membuktikan Teori Relativitas Khusus milik Einstein yang merupakan dasar kuat untuk memungkinkan melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Tapi, alat ini belum sempurna. Aku hanya bisa melakukan perjalanan ke masa lalu dan itu pun hanya sekali. Setelah itu, aku tak bisa menggunakan alat itu lagi.”

“Jadi?” Wajah perempuan terlihat penuh tanya.

“Aku datang dari tahun 2010.”

Perempuan menatap lelaki dengan wajah penuh keheranan. Ada rasa tak percaya dalam dirinya. Tapi cepat-cepat diusirnya rasa itu kemudian berkata, “Benarkah itu, Anakku? Maukah kau menceritakan apa-apa saja yang sudah terjadi setelah hari ini?”

“Tentu, Ma.”

“Kalau begitu, ceritakanlah.” Rasa keingintahuan menyelimutinya.

“3 Juli 2007, aku mendapat surat mengenai penerimaan beasiswa dari Inggris dan…”

“Kau diterima, bukan?”

“Ya, Ma. Berkat doa Mama.”

“Lanjutkanlah ceritamu.”

“18 Agustus, masih di tahun yang sama, aku menikahi gadis Medan itu.”

“Nia, maksudmu? Aku juga setuju itu, Anakku. Aku percaya dengan pilihanmu. Kalian akan memiliki keluarga yang bahagia.”

“Oktober, aku berangkat ke London terlebih dahulu dan Nia menyusul di bulan Desember. Dan di bulan September 2008, aku memberikan Mama seorang cucu yang lahir di sana.”

“Aku tentu bahagia, bukan.”

Lelaki tak menjawab. “Rambutku ini, Ma,” katanya meneruskan cerita. “Sama seperti waktu itu. Tak kupotong karena biaya potong rambut masih mahal. Bahkan lebih mahal lagi.”

Perempuan diam.

“Kenapa Mama diam?”

“Tak bisakah kau ajak aku sekarang ke tahun 2010 itu. Rasanya terlalu lama aku menunggu saat itu, Anakku.”

Lelaki meneteskan air mata lagi. Tak lama kemudian dia berkata dengan suara yang amat pelan, “Andaikan aku bisa, aku akan mengajak Mama ke tempat itu saat ini. Melihat menantu dan cucu, Mama.”

“Tak mengapa, Anakku. Sampaikan saja salamku.”

“Ma… sebelum aku pulang ke dimensi waktu yang sesungguhnya, maukah Mama memberi nasihat untukku?”

“Kau akan pulang?”

“Harus, Ma.”

“Baiklah kalau begitu. Pesanku, jagalah nama baik keluarga kita di mana pun kau berada. Yang kedua, kau bilang kau sudah menikah. Untuk itu, bersikap adil dan jujurlah pada istrimu, Nia.”

Mereka lalu menangis dalam pelukan. Kemudian lambat-lambat lelaki bergerak meninggalkan kamar. Meninggalkan perempuan cantik itu setelah diciumnya berulang-ulang. Kepalanya menoleh sekali lagi. Perempuan itu tersenyum. Dia melangkah lagi menuju mesin waktu. Tapi sebelum dia hilang dari balik pintu, perempuan cantik itu bertanya, “Berapa lama lagi aku hidup setelah hari ini, Anakku?”

***

22 Desember 2011

Lelaki duduk di dekat sebuah pusara tempat perempuan cantik itu disemayamkan. Perempuan yang melahirkannya dan merawatnya dengan kasih sayang. Perempuan yang menghantarkannya menggapai cita-cita dengan doa dan air matanya. Perempuan yang tak akan mampu dilupakannya. Perempuan yang dia panggil dengan kata, “Mama.”

“Tak lama, Ma. Hanya tinggal beberapa hari,” katanya dalam hati menjawab pertanyaan perempuan yang ditemuinya satu tahun yang lalu dengan mesin waktu.

Ditaburkannya berbagai bunga di atas pusara itu. Kemudian dia berkata, “Aku baru pulang, Ma. Pulang dengan gelar PhD. Pulang dengan istri dan ini…,” lelaki menarik lembut seorang anak kecil dari pangkuan ibunya, “cucu Mama. Dia sudah besar sekarang.”

Air mata itu menetes lagi. Dia menengadahkan tangan, berdoa. "Ya Tuhan, ampunlah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan rahmatilah mereka sama seperti mereka menyayangiku watu kecil. . .Selamat hari Ibu, Ma,” katanya sambil beranjak meninggalkan tempat yang penuh dengan kesunyian itu.

10 Juni 2008, Bristol, United Kingdom.



From: Kaskus.us

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar